TOBOINTERIOR
Menu

Tips Desain

Desain Ruang Laktasi Kantor: Lebih dari Sekadar Kewajiban Regulasi

10 September 2026

Desain Ruang Laktasi Kantor: Lebih dari Sekadar Kewajiban Regulasi

Banyak kantor sudah punya ruang laktasi, tapi sebagian besar hanya berupa bilik sempit bekas gudang dengan tirai seadanya. Padahal ruang ini bukan sekadar syarat administratif untuk memenuhi ketentuan pemerintah — kualitasnya ikut menentukan seberapa nyaman karyawan yang baru kembali dari cuti melahirkan menjalani hari kerjanya, dan seberapa serius perusahaan dianggap mendukung karyawannya di luar urusan pekerjaan.

Bukan sekadar ruang kosong dengan tirai

Ruang laktasi yang dibuat asal jadi biasanya berakhir jarang dipakai sesuai fungsinya, atau malah dipakai untuk keperluan lain seperti gudang dadakan. Karyawan yang harus memompa ASI di ruang yang tidak nyaman, bising, atau tidak benar-benar privat cenderung menunda atau melewatkan waktu memompa, yang berdampak pada produksi ASI mereka. Di sisi lain, ruang yang dirancang dengan baik justru bisa jadi nilai tambah nyata saat perusahaan merekrut atau mempertahankan karyawan, khususnya karyawan perempuan yang sedang dalam masa menyusui.

Standar minimal yang perlu dipenuhi

Ketentuan mengenai ruang laktasi di tempat kerja sudah diatur cukup rinci, mencakup luas minimal ruangan, keberadaan pintu yang bisa dikunci dari dalam, sirkulasi udara yang baik, serta akses air bersih untuk mencuci peralatan pompa. Sayangnya, banyak kantor hanya memenuhi standar ini secara harfiah tanpa mempertimbangkan kenyamanan pemakainya — misalnya ruangan yang cukup luas tapi ditempatkan tepat di sebelah area mesin AC atau genset yang bising, sehingga tetap tidak nyaman dipakai meski secara ukuran sudah sesuai aturan.

Lokasi dan privasi jadi pertimbangan utama

Penempatan ruang laktasi idealnya tidak berada di jalur lalu lintas utama kantor atau berdekatan langsung dengan area kerja yang ramai, supaya karyawan tidak merasa “terlihat” setiap kali keluar-masuk ruangan. Akses menuju wastafel untuk mencuci peralatan pompa sebaiknya dekat, tapi ruang laktasi sendiri sebaiknya terpisah dari toilet — penempatan yang menyatu dengan toilet sering dikeluhkan karena kesan kurang higienis untuk kegiatan yang berhubungan dengan makanan bayi.

Perlengkapan yang membuat ruang benar-benar terpakai

Ruang laktasi yang fungsional biasanya membutuhkan lebih dari sekadar kursi dan meja kecil. Kursi dengan sandaran yang nyaman untuk duduk dalam waktu cukup lama, meja untuk meletakkan peralatan pompa, stop kontak yang mudah dijangkau, wastafel kecil untuk mencuci botol dan peralatan, serta lemari pendingin khusus untuk menyimpan ASI perah adalah kombinasi yang membuat ruang ini benar-benar dipakai, bukan sekadar dilewati sesekali. Cermin dan tempat sampah tertutup juga sering luput direncanakan padahal cukup penting dalam pemakaian sehari-hari.

Material dan pencahayaan yang mendukung kenyamanan

Karena ruangan ini biasanya berukuran kecil, pemilihan warna dinding yang lebih terang membantu ruangan terasa tidak sempit dan menekan. Pencahayaan sebaiknya bisa diatur tidak terlalu terang menyilaukan, karena banyak karyawan memompa ASI sambil beristirahat sejenak dari pekerjaan. Material lantai dan dinding idealnya mudah dibersihkan mengingat aktivitas di ruangan ini berkaitan langsung dengan kebersihan pangan bagi bayi, sehingga permukaan yang berpori atau sulit dilap sebaiknya dihindari.

Bisa dikerjakan sebagai renovasi per elemen

Penataan ulang ruang laktasi tidak memerlukan renovasi kantor secara menyeluruh. Ruangan kecil yang sudah ada bisa dirapikan ulang tata letak, ditambah instalasi listrik dan air, serta diganti materialnya sebagai renovasi per elemen yang terfokus, tanpa mengganggu operasional area kerja lain di sekitarnya.


Sudah punya ruang laktasi tapi belum benar-benar nyaman dipakai karyawan? Ceritakan kondisi ruang Anda, kami bantu rancang ulang agar sesuai standar sekaligus nyaman digunakan sehari-hari.

Bagikan artikel ini

← Kembali ke Blog