Tips Desain
Desain Ruang Merokok Kantor: Nyaman untuk Karyawan, Sesuai Aturan Kawasan Tanpa Rokok
30 September 2026
Sebagian besar gedung perkantoran di kota besar sudah menerapkan aturan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) yang melarang aktivitas merokok di dalam area kerja. Masalahnya, banyak kantor berhenti di tahap “melarang” tanpa menyediakan solusi penggantinya. Akibatnya karyawan yang merokok akhirnya mencari celah sendiri — tangga darurat, area parkir motor, atau sudut belakang gedung — yang justru menimbulkan masalah baru: bau rokok menyebar ke ruang kerja, risiko kebakaran di area yang tidak dirancang untuk itu, dan kesan kantor yang kurang tertata bagi tamu yang melintas. Menyediakan ruang merokok yang dirancang dengan benar sebenarnya jauh lebih murah dibanding menanggung risiko-risiko tersebut.
Kenapa ruang merokok tetap dibutuhkan meski kantor menerapkan KTR
Aturan KTR pada dasarnya mengatur di mana orang boleh dan tidak boleh merokok, bukan melarang merokok sepenuhnya. Sebagian besar regulasi ini justru mewajibkan pengelola gedung menyediakan tempat khusus merokok yang terpisah dari area kerja, dengan sirkulasi udara yang tidak bercampur ke ruangan lain. Kantor yang hanya memasang larangan tanpa menyediakan ruang pengganti sering kali gagal menegakkan aturannya sendiri, karena karyawan tetap mencari tempat merokok — hanya saja di lokasi yang tidak semestinya.
Lokasi yang tepat: terpisah dari jalur sirkulasi dan area kerja
Ruang merokok idealnya ditempatkan di area yang mudah dijangkau namun tidak berada di jalur lalu lintas utama karyawan atau tamu, misalnya dekat area parkir, balkon belakang gedung, atau ruang tambahan di lantai dasar. Penempatan yang terlalu dekat dengan pintu masuk utama, lobi, atau jendela yang terhubung ke sistem ventilasi ruang kerja berisiko membuat asap dan bau rokok terbawa masuk. Jarak yang cukup dari area kerja aktif juga mengurangi keluhan karyawan yang tidak merokok soal bau yang menempel di pakaian atau menyebar ke meja kerja mereka.
Sistem ventilasi dan exhaust sebagai elemen paling krusial
Berbeda dari ruang kantor lain, ruang merokok membutuhkan sistem sirkulasi udara yang dirancang khusus untuk menarik keluar asap secara cepat, bukan sekadar mengandalkan jendela terbuka. Exhaust fan berkapasitas besar yang membuang udara langsung ke luar gedung, idealnya dikombinasikan dengan tekanan udara negatif di dalam ruangan agar asap tidak “bocor” keluar setiap kali pintu dibuka, adalah investasi yang paling menentukan apakah ruang ini benar-benar nyaman dipakai atau justru terasa pengap dan bau.
Material dan furniture yang tahan noda serta mudah dibersihkan
Asap rokok meninggalkan residu yang lama-kelamaan menempel di permukaan dinding dan plafon, sehingga material yang mudah menyerap bau seperti cat berpori atau plafon gypsum polos sebaiknya dihindari. Lapisan cat khusus yang tahan noda nikotin, lantai vinyl atau keramik yang mudah dipel, serta furniture berbahan logam atau plastik yang tidak menyerap bau jauh lebih tepat dibanding sofa berbahan kain. Tempat abu rokok yang tertutup dan mudah dikosongkan juga membantu menjaga ruangan tetap rapi sepanjang hari.
Ukuran dan kapasitas yang realistis sesuai jumlah perokok
Ruang merokok tidak perlu besar, tapi harus cukup untuk menampung beberapa orang sekaligus pada jam-jam sibuk seperti setelah makan siang, tanpa membuat penghuninya berdesakan. Menghitung perkiraan jumlah karyawan yang merokok dan pola jam istirahat membantu menentukan ukuran yang wajar — terlalu kecil membuat antrean dan ruangan cepat pengap, sementara terlalu besar hanya membuang ruang yang bisa dipakai untuk fungsi lain.
Keselamatan kebakaran sebagai pertimbangan wajib
Karena berkaitan langsung dengan api dan bahan yang mudah terbakar, ruang merokok wajib dilengkapi alat pemadam api ringan (APAR) yang mudah dijangkau, tempat abu rokok yang tidak mudah terguling, serta material interior yang punya ketahanan terhadap api sesuai standar bangunan. Ruang ini juga sebaiknya tidak diletakkan berdekatan dengan gudang, ruang server, atau area penyimpanan bahan mudah terbakar lainnya.
Bisa dikerjakan sebagai renovasi per elemen tanpa mengganggu operasional
Membuat ruang merokok baru atau merapikan yang sudah ada — misalnya mengonversi gudang kecil atau void yang tidak terpakai — bisa dikerjakan sebagai renovasi per elemen yang mencakup instalasi ventilasi, pergantian material, dan penataan ulang tata letak, tanpa perlu menghentikan operasional kantor secara keseluruhan.
Ruang merokok di kantor Anda masih sekadar area darurat yang tidak dirancang khusus? Ceritakan kondisi ruang Anda, kami bantu rancang ruang merokok yang nyaman bagi karyawan sekaligus sesuai aturan kawasan tanpa rokok.