TOBOINTERIOR
Menu

Tren Interior

Tren Desain Kantor Bergaya Hospitality (Resimercial): Kenapa Kantor Makin Terasa Seperti Hotel

26 Oktober 2026

Tren Desain Kantor Bergaya Hospitality (Resimercial): Kenapa Kantor Makin Terasa Seperti Hotel

Masuk ke beberapa kantor baru sekarang, kesan pertamanya sering lebih mirip lobi hotel butik atau kafe nyaman dibanding kantor konvensional yang kaku dengan meja kerja berbaris rapi. Sofa empuk, lampu gantung hangat, dinding kayu, dan sudut duduk yang santai makin umum ditemukan di area kerja. Pendekatan ini punya nama: resimercial, gabungan dari “residential” dan “commercial”, yang menerapkan kenyamanan dan kehangatan desain rumah atau hospitality ke ruang kerja profesional.

Apa itu desain resimercial

Resimercial adalah filosofi desain yang meminjam elemen visual dan fungsional dari ruang hospitality (hotel, lounge, kafe) serta ruang rumah tinggal, lalu menerapkannya ke ruang komersial seperti kantor. Alih-alih furniture kantor standar yang terasa formal dan seragam, pendekatan ini memakai sofa, karpet, lampu baca, dan material seperti kayu atau kain yang biasanya dijumpai di ruang keluarga atau lobi hotel. Tujuannya bukan sekadar estetika, tapi membuat karyawan merasa senyaman mungkin di tempat yang mereka habiskan waktu berjam-jam setiap hari.

Kenapa tren ini berkembang pesat belakangan ini

Pergeseran ke kerja hybrid membuat kantor tidak lagi bisa mengandalkan “karena harus datang” sebagai alasan karyawan ke kantor — ruang kerja sekarang harus benar-benar menarik dan nyaman dibanding bekerja dari rumah, kafe, atau co-working space yang sudah terbiasa dengan kenyamanan semacam ini. Perusahaan yang bersaing merekrut talent juga mulai menyadari bahwa kantor adalah bagian dari pengalaman karyawan (employee experience), bukan cuma tempat menaruh meja dan komputer. Dari sisi bisnis, ruang yang terasa hangat dan tidak mengintimidasi juga membantu kesan pertama ke klien atau mitra yang berkunjung.

Elemen hospitality yang mulai masuk ke ruang kerja

Beberapa elemen paling umum dipindahkan dari dunia hospitality ke kantor adalah furniture lounge seperti sofa dan armchair untuk area diskusi santai, pencahayaan berlapis dengan lampu gantung atau lampu baca yang hangat alih-alih lampu neon seragam di seluruh ruang, serta material residential seperti kayu, kain berlapis, dan karpet yang jarang dipakai di kantor konvensional. Pantry yang dulu sekadar tempat menaruh dispenser air kini banyak didesain menyerupai coffee bar atau kafe kecil, lengkap dengan bar stool dan meja komunal. Elemen seni, tanaman, dan branding yang ditata seperti galeri atau lobi hotel juga jadi bagian dari pendekatan ini.

Bedanya dengan “kantor yang nyaman” biasa

Tidak semua kantor yang terasa nyaman otomatis disebut resimercial. Perbedaannya ada pada seberapa jauh bahasa desainnya meninggalkan konvensi kantor tradisional — kantor nyaman biasa biasanya masih mempertahankan tata letak dan material standar kantor dengan sedikit sentuhan dekoratif, sementara resimercial benar-benar menggeser default dari formal-korporat ke hangat-personal di sebagian besar area, termasuk pemilihan warna, tekstur, dan skala furniture yang lebih dekat ke ruang rumah dibanding ruang rapat.

Area yang paling cocok dimulai lebih dulu

Menerapkan resimercial di seluruh kantor sekaligus jarang realistis dari segi budget maupun fungsi, karena beberapa area tetap butuh efisiensi dan ketahanan material kantor konvensional. Area yang paling cocok memulai pendekatan ini biasanya lobi dan ruang tunggu, pantry atau lounge karyawan, serta sudut-sudut kolaborasi informal yang memang ditujukan untuk suasana santai. Area kerja inti dengan kebutuhan workstation padat dan ruang server atau ruang teknis tetap lebih masuk akal didesain fungsional seperti biasa, karena kenyamanan hospitality di sana kurang relevan dibanding kebutuhan produktivitas dan keamanan peralatan.

Tantangan menerapkannya di kantor Indonesia

Material residential seperti kain berlapis atau karpet yang indah di rumah tidak selalu tahan terhadap lalu lintas kantor yang jauh lebih padat, sehingga pemilihannya harus tetap memperhitungkan daya tahan dan kemudahan perawatan, bukan sekadar tampilan di katalog. Furniture lounge impor atau custom juga biasanya lebih mahal dibanding furniture kantor standar, sehingga perlu dipilih secara selektif di area yang paling berdampak. Iklim tropis dan kelembapan di Indonesia juga perlu dipertimbangkan saat memilih material kayu atau kain tertentu agar tidak cepat rusak atau berjamur.


Menghadirkan sentuhan hospitality ke kantor bisa membuat ruang kerja terasa jauh lebih menarik, asal diterapkan di area yang tepat dengan material yang realistis untuk penggunaan sehari-hari. Ceritakan kondisi ruang Anda, kami bantu rancang kantor yang nyaman tanpa mengorbankan fungsi dan daya tahan.

Bagikan artikel ini

← Kembali ke Blog